Senin, 19 April 2010

MEMAHAMI DEMOKRASI..BUKAN MENIKMATI DEMOKRASI

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan pastor, pihak depag, polsek, dan Danramil maka yg harus disalahkan adalah Ustadz. Sebab kalau tidak, itu namanya dictator mayoritas. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Namun kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yg harus ngalah, baru wajar namanya…..
“Agama” yg paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yg pro dan kontra demokrasi ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yg diplonco dan dites terus-menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam…..
Orang-orang non-Muslim, terutama kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan unt mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rosul SAW., melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.
Maka dari itu, kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti Islam tanpa melalui apresiasi terhadap al-Quran, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan AS di berbagai belahan dunia…..
*********
Paragraph tersebut sengaja dinukil dari sebuah kolom kecil seorang budayawan terkenal di tanah air. Lewat sindirannya yg tajam, ia mengungkapkan kegeramannya terhadap praktik demokrasi yg sering bersikap tidak adil terhadap Islam dan kaum Muslim.
Disisi lain sering jg disaksikan ketidakadilan terhadap Islam dan kaum Muslim atas nama HAM yg tersermin dalam beberapa contoh kasus berikut:

Jika ada sekelompok umat Islam yg mengobrak-abrik tempat-tempat mesum, mereka akan dianggap bertindak semena-mena dan menlanggar HAM. Mereka layak dihukum. Sebaliknya, para pelacur dan lelaki hidung belang yg biasa mangkal di tempat-tempat maksiat itu tak tersentuh. Mereka dianggap tidak melanggar HAM, yg wanita dibiarkan karena dianggap sekedar sedang mencari penghidupan, mereka dipandang sedang bekerja, hanya saja mereka diberi status “pekerja” seks komersial. Yg laki-laki pun tidak diapa-apakan karena sekedar sedang mencari hiburan. Apalagi mereka telah membayar uang sekian kepada pengelola pelacuran, yg kebetulan dipajaki oleh PEMDA setempat.
Ketika umat Islam menghujat kelompok sesat seperti ahmadiyah atau al-qiyadah al-islamiyah, kaum liberal ribut sembari menuduh umat Islam tidak dewasa, tidak menghormati kebebasan dan melanggar HAM. Bahkan fatwa “sesat” MUI yg dinisbatkan kepada kelompok sesat itu mereka pandang sesat. Sebaliknya ketika ada sekelompok umat Islam menyuarakan aspirasinya tentang perlunya Indonesia menerapkan Syariah dan menegakkan Khilafah, atas nama kebebasan dan HAM pula kaum liberal mencap mereka sebagai musuh kebebasan, dan Syariah yg diusungnya berpotensi melanggar HAM dan mengancam keragaman......

Demikianlah atas nama HAM dan Demokrasi pelaku asusila dibela, sementara pelaku amar makruf nahi mungkar dicerca; para penoda kesucian agama Islam dibiarkan, sementara MUI yg berniat melindungi kehormatan Islam disalahkan atas nama HAM. Pelaku perselingkuhan (perzinaan) dipandang wajar, sementara pelaku poligami dianggap kurang ajar; para penolak pornografi-pornoaksi dicaci-maki, sementara pelakunya dipandang pekerja seni. Atas nama HAM pula, para pejuang Syariah dituduh memecah belah, sementara pengusung sekularisme dan liberalisme dianggap membawa berkah.
Itulah secuil gambaran tentang betapa bobroknya demokrasi dan HAM…. Disamping jelas-jelas bobrok, demokrasi dan HAM juga nyata-nyata tidak jelas juntrungannya. Dalam demokrasi, katanya rakyat yg berdaulat, tapi faktanya yg sangat adikuasa adalah para pemilik modal kuat.
Dalam tataran praktiknya, demokrasi juga menghasilkan sejumlah kerumitan. Sejak berdirinya pada tahun 1776, AS sebagai kampium demokrasi dunia, memerlukan waktu 11 tahun unt menyusun konstitusi, 89 th untuk menghapus perbudakan, 144 th unt memberikan hak pilih kepada kaum wanita, dan 188 th unt menyusun draf konstitusi yg “melindungi” seluruh warga Negara (Strobe Talbott, 1997). Bahkan setelah ratusan tahun hingga hari ini, demokrasi amerika belum jg “rela” memberikan kursi kepresidenan kpd seorang wanita. Padahal demokrasi katanya menjungjung tinggi kesetaraan dan memberikan hak politik yg sama kepada laki-laki maupun perempuan.

Anehnya, dg perjalanan masa lalu yg demikian kelabu dan bahkan kelam serta masa kini yg penuh ironi dan kontradiksi, amerika dg pongahnya memberikan kuliah tentang “demokrasi juga HAM” kepada Negara-negara berkembang yg mayoritasnya adalah negeri-negeri Islam. Yg Lebih aneh lagi adalah para pemuja Demokrasi dan HAM dari kalangan Muslim, yg tetap buta terhadap kebobrokan demokrasi serta menutup mata terhadap kebejatan Negara adikuasa AS sebagai pengusung utamanya.
Benarlah Sir Winston Churchill (PM Inggris pada masa PD-II) yg pernah mengatakan “demokrasi bukanlah system yg baik; dia menyimpan kesalahan dalam dirinya (built-in-error).”

Inikah demokrasi dan HAM yg dielu-elukan oleh sebagian kalangan, khusunya rezim yg saat ini lagi berkuasa…..?????
Sungguh ironi…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar